<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://sepakat-demo.bappenas.go.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Mengenal_Sepakat</id>
	<title>Mengenal Sepakat - Revision history</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://sepakat-demo.bappenas.go.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Mengenal_Sepakat"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://sepakat-demo.bappenas.go.id/km-wiki/index.php?title=Mengenal_Sepakat&amp;action=history"/>
	<updated>2026-06-06T05:06:22Z</updated>
	<subtitle>Revision history for this page on the wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.44.0</generator>
	<entry>
		<id>https://sepakat-demo.bappenas.go.id/km-wiki/index.php?title=Mengenal_Sepakat&amp;diff=97&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin.Sepakat: Created page with &quot;&lt;div class=&quot;hidden-toc-number&quot;&gt; = &lt;strong&gt; SEPAKAT &lt;/strong&gt; (Sistem Perencanaan, Penganggaran, Analisis &amp; Evaluasi Kemiskinan Terpadu) = &#039;&#039;&#039;Modul Analisis SEPAKAT&#039;&#039;&#039; adalah perangkat analisis kemiskinan di tingkat daerah untuk menghasilkan bukti empiris agar kebijakan pengentasan kemiskinan lebih tepat sasaran dan tepat guna. &lt;br /&gt;  ==KATA PENGANTAR== Kemiskinan merupakan isuprioritas yangharus ditanganioleh semua sektordan pihak.Targetkemiskinan di tingkat Nasional di...&quot;</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://sepakat-demo.bappenas.go.id/km-wiki/index.php?title=Mengenal_Sepakat&amp;diff=97&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2025-10-09T09:14:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Created page with &amp;quot;&amp;lt;div class=&amp;quot;hidden-toc-number&amp;quot;&amp;gt; = &amp;lt;strong&amp;gt; SEPAKAT &amp;lt;/strong&amp;gt; (Sistem Perencanaan, Penganggaran, Analisis &amp;amp; Evaluasi Kemiskinan Terpadu) = &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Modul Analisis SEPAKAT&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah perangkat analisis kemiskinan di tingkat daerah untuk menghasilkan bukti empiris agar kebijakan pengentasan kemiskinan lebih tepat sasaran dan tepat guna. &amp;lt;br /&amp;gt;  ==KATA PENGANTAR== Kemiskinan merupakan isuprioritas yangharus ditanganioleh semua sektordan pihak.Targetkemiskinan di tingkat Nasional di...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;New page&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;lt;div class=&amp;quot;hidden-toc-number&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
= &amp;lt;strong&amp;gt; SEPAKAT &amp;lt;/strong&amp;gt; (Sistem Perencanaan, Penganggaran, Analisis &amp;amp; Evaluasi Kemiskinan Terpadu) =&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Modul Analisis SEPAKAT&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah perangkat analisis kemiskinan di tingkat daerah untuk menghasilkan bukti empiris agar kebijakan pengentasan kemiskinan lebih tepat sasaran dan tepat guna.&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==KATA PENGANTAR==&lt;br /&gt;
Kemiskinan merupakan isuprioritas yangharus ditanganioleh semua sektordan pihak.Targetkemiskinan&lt;br /&gt;
di tingkat Nasional disahkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional&lt;br /&gt;
(RPJMN) dan di tingkat daerah disahkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah&lt;br /&gt;
Daerah (RPJMD). Tahun 2018, kemiskinan satu digit menjadi sebuah jargon untuk angka kemiskinan&lt;br /&gt;
terendah yang sudah tercapai selama kurang lebih 20 tahun. Penurunan kemiskinan yang terus terjadi&lt;br /&gt;
setiap tahunnya menunjukkan Indonesia semakin Menuju Bebas Kemiskinan.&lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Namun, penurunan kemiskinan tidak terjadi di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia. Berbagai&lt;br /&gt;
permasalahan terkait kemiskinan secara moneter dan multidimensi masih menyelimuti hampir seluruh&lt;br /&gt;
daerah. Tantangan-tangan yang dihadapi setiap daerah dengan dilengkapi Indonesia sebagai negara&lt;br /&gt;
kepulauan dan banyak budayanya mengartikan kemiskinan di Indonesia beda akar masalahnya.&lt;br /&gt;
Kemiskinan satu digit yang didengungkan sejak tahun 2018, tidak berarti apabila kemiskinan di tingkat&lt;br /&gt;
daerah masih dirasakan banyakdaerah.&lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Berbagai strategi yang telah dilakukan baik di tingkat pusat maupun daerah cenderung kepada&lt;br /&gt;
penurunan beban dan peningkatan pendapatan yang juga sesuai dengan RPJMN 2020 - 2024. Namun,&lt;br /&gt;
langkah strategi yang inovatif perlu dikembangkan seiring dengan kemajuan teknologi berbasis 4.0.&lt;br /&gt;
Sistem Perencanaan, Penganggaran, Pemantauan, Evaluasi, dan Analisis Kemiskinan Terpadu (SEPAKAT)&lt;br /&gt;
merupakan salah satu inovasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Pusat untuk digunakan baik untuk&lt;br /&gt;
tingkat pusat, daerah, maupun stakeholder lainnya untuk percepatan penurunan kemiskinan. Keluaran&lt;br /&gt;
yang dihasilkan oleh SEPAKAT berupa materi dasar penyusunan dokumen perencanaan daerah yang&lt;br /&gt;
pro-poor sehingga kebijakan yang diusulkan tepat guna dan tepat sasaran.&lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Pemanfaatan SEPAKAT telah dirasakan oleh beberapa pemerintah pusat dan daerah baik untuk&lt;br /&gt;
penyusunan dokumen perencanaan maupun alat analisis lainnya. Fungsi SEPAKAT yang didasari oleh&lt;br /&gt;
teknologi juga memberikan perubahan kepada cara membuat kebijakan berbasis bukti dan data serta&lt;br /&gt;
perubahan dalam kapasitas sumberdaya manusianya. Pada akhirnya, kemiskinan satu digit tidak hanya&lt;br /&gt;
terasa di tingkat Nasional saja melainkan di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia serta tercapainya Zero&lt;br /&gt;
Poverty.&lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
==LATAR BELAKANG==&lt;br /&gt;
Berbagai langkah besar dan inovatif telah ditempuh Pemerintah untuk menekan angka kemiskinan. &lt;br /&gt;
Sebanyak 40 juta penduduk berhasil keluar dari kemiskinan sejak tahun 2006. Namun dalam enam &lt;br /&gt;
tahun terakhir terjadi perlambatan penurunan kemiskinan dengan laju penurunannya sebesar 2.25% &lt;br /&gt;
tahun 2013 – 2019. Di sisi lain tingkat ketimpangan pengeluaran mengalami penurunan secara perlahan &lt;br /&gt;
sejak tahun 2014 yang mengindikasikan adanya perbaikan pemerataan pendapatan bagi masyarakat &lt;br /&gt;
dengan 40% berpendapatan terendah dan menengah. Selain itu, selama satu tahun terakhir rata-rata &lt;br /&gt;
pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan yang ditandai oleh penurunan Indeks &lt;br /&gt;
Kedalaman Kemiskinan (P1) serta semakin mengecilnya ketimpangan diantara penduduk miskin yang &lt;br /&gt;
ditandai oleh penurunan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Hal ini mengartikan, terdapat peningkatan &lt;br /&gt;
aktivitas yang mendukung penciptaan lapangan kerja baru dan dampak dari peningkatan arus uang yang &lt;br /&gt;
beredar di daerah dikarenakan perguliran dana desa yang berpengaruh terhadap distribusi pendapatan &lt;br /&gt;
di daerah. Di sisi lain, terdapat penurunan pada daya beli dan semakin tertinggalnya masyarakat miskin. &lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dengan demikian, strategi percepatan penanggulangan kemiskinan perlu upaya yang inovatif secara &lt;br /&gt;
sistematik, holistik, integratif dan spasial. Program-program nasional dan daerah juga perlu dirancang &lt;br /&gt;
untuk menyasar akar permasalahan kemiskinan dan kantong-kantong kemiskinan secara fokus dan &lt;br /&gt;
tepat. Pemikiran dan rancangan program yang ‘out of the box’ untuk dapat mengurai bottleneck dalam &lt;br /&gt;
permasalahan kemiskinan serta kerjasama pemerintah pusat dan daerah perlu didorong untuk menjamin &lt;br /&gt;
percepatan pengurangan kemiskinan dan ketimpangan yang lebih efektif. &lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah menegaskan bahwa &lt;br /&gt;
penguatan partisipasi masyarakat sebagai komponen penting di daerah dalam proses pembangunan telah &lt;br /&gt;
dikenali sebagai pendekatan kunci dalam pencapaian perencanaan dan penganggaran yang berpihak &lt;br /&gt;
pada masyarakat miskin. Dalam rangka melaksanakan mandat tersebut Bappenas telah berupaya &lt;br /&gt;
mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah &lt;br /&gt;
termasuk diantaranya melalui program Pro-poor Planning, Budgeting dan Monitoring (P3BM) dan SIMPADU &lt;br /&gt;
(Sistem Informasi Terpadu). Melalui P3BM telah dibangun program peningkatan kapasitas pemerintah &lt;br /&gt;
daerah agar dapat memperbaiki kualitas perencanaan dan penganggaran agar dapat lebih berpihak &lt;br /&gt;
kepada kebutuhan masyarakat miskin. Sementara itu, melalui SIMPADU diharapkan peningkatan peran &lt;br /&gt;
pemerintah daerah untuk dapat mengelola data dan memonitor program-program kemiskinan secara &lt;br /&gt;
cepat dan dinamis menggunakan aplikasi berbasis web. Inovasi-inovasi ini ditujukan untuk mendukung &lt;br /&gt;
pemerintah daerah selaku aktor kunci dalam pembangunan dan percepatan pengurangan kemiskinan &lt;br /&gt;
daerah, terutama melalui perbaikan sistem dan mekanisme perencanaan, penganggaran, monitoring &lt;br /&gt;
dan evaluasi program yang berpihak pada masyarakat miskin dan rentan. &lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Hal ini sejalan dengan perkembangan terkini dengan memanfaatkan sistem dan aplikasi untuk &lt;br /&gt;
mengumpulkan berbagai data secara optimal. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai input bagi &lt;br /&gt;
perumusan kebijakan program dan pengambilan keputusan pemerintah. Kebutuhan akan data dan &lt;br /&gt;
penggunaannya sudah disadari dan diidentifikasi dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2020 &lt;br /&gt;
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yang menyebutkan &lt;br /&gt;
khususnya dalam rangka pelaksanaan meningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya &lt;br /&gt;
saing melalui terwujudnya pengendalian penduduk dan menguatnya tata kelola kependudukan dengan &lt;br /&gt;
sasaran persentase provinsi/kabupaten/kota yang memanfaatkan sistem perencanaan, penganggaran, &lt;br /&gt;
dan monitoring evaluasi unit terpadu dalam proses penyusunan program-program penanggulangan &lt;br /&gt;
kemiskinan. &lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dalam rangka pelaksanaan strategi program secara holistik, tematik, integratif dan spasial maka pada &lt;br /&gt;
tahun 2016 telah dikembangkan sistem yang mendukung pelaksanaan Perencanaan, Penganggaran, &lt;br /&gt;
Pemantauan, Evaluasi dan Analisis Kemiskinan Terpadu bernama SEPAKAT. Analisis yang dihasilkan &lt;br /&gt;
dari SEPAKAT dapat dirancang untuk proses perencanaan dan penganggaran daerah berbasis bukti &lt;br /&gt;
dan data sehingga perumusan program kemiskinan menyasar kantong-kantong kemiskinan secara &lt;br /&gt;
tepat sasaran. Selain untuk memperkaya diagnosa analisis kemiskinan serta perumusan prioritisasi &lt;br /&gt;
program kemiskinan, Bappenas juga membangun kerjasama dengan Sistem Sub-National Poverty &lt;br /&gt;
Assessment (SNAPA) yang dikembangkan Bank Dunia dengan tujuan untuk memberdayakan pemerintah &lt;br /&gt;
daerah menganalisis kemiskinan dan meningkatkan inovasi dalam pembuatan kebijakan pengentasan &lt;br /&gt;
kemiskinan berbasis bukti di tingkat daerah.&lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Integrasi sistem ini diharapkan juga dapat menghasilkan suatu instrumen yang secara sistematis dapat &lt;br /&gt;
menyempurnakan basis data dan analisis kemiskinan untuk proses perencanaan dan penganggaran &lt;br /&gt;
yang pro-poor, penguatan proses monitoring dan evaluasi yang terukur melalui peningkatan kapasitas &lt;br /&gt;
aparatur dan peran kelembagaan yang menangani pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan &lt;br /&gt;
dan perlindungan sosial di daerah. &lt;br /&gt;
&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
==TUJUAN==&lt;br /&gt;
Tujuan dari hasil pengajaran modul Pengantar SEPAKAT ini, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;
# Memperoleh informasi terkait kondisi kemiskinan di Indonesia dan strategi kebijakan  penanggulangan kemiskinan Nasional. &lt;br /&gt;
# Memiliki pemahaman menyeluruh terkait perannya dalam upaya pengentasan kemiskinan. &lt;br /&gt;
# Memiliki pengetahuan pentingnya memanfaatkan data dalam merumuskan kebijakan dan  program terkait penanggulangan kemiskinan. &lt;br /&gt;
# Memiliki perubahan paradigma dalam melakukan perencanaan dan penganggaran yang berpihak kepada masyarakat miskin. &lt;br /&gt;
# Memahami pentingnya konsistensi antara proses perencanaan, penganggaran, monitoring dan evaluasi program-program terkait kemiskinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==MANFAAT==&lt;br /&gt;
Manfaat yang diharapkan melalui modul ini adalah pemahaman menyeluruh bagi peserta terkait &lt;br /&gt;
permasalahan kemiskinan terkini penyusunan perencanaan, penganggaran yang berbasiskan data dan &lt;br /&gt;
analisis menggunakan SEPAKAT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin.Sepakat</name></author>
	</entry>
</feed>